Tuesday, December 12, 2017

The High Priestess - Prologue

Mereka bilang, cinta itu mudah. Kau jatuh cinta, kau mengungkapkannya, kau menjalaninya. Tapi, tidak seperti yang telah ku alami. Aku jatuh cinta, aku memendamnya, aku menjadi sakit. Aku tidak sanggup mengungkapkannya. Seakan-akan, jika aku mengungkapkannya, aku bisa saja mati atau hilang ditelan bumi. Ketakutanku menggebu-gebu. Rasa itu ingin keluar, namun tidak bisa keluar. Dulu aku berpikir, bagaimana jika itu semua hilang? Bagaimana jika apa yang aku lakukan membuatku lebih sakit? Apa yang akan terjadi bila aku tetap memendam rasa ini lebih lama lagi?

Monday, November 13, 2017

Subliminal

Takkan pernah ada yang mengerti apa yang aku rasakan
Suka duka, rasa pahit pun tidak ada yang peduli

Mereka tak pernah mengerti

Terdapat bisikan-bisikan subliminal yang menghantuiku
Memberiku kata-kata jahat dan baik, tentangmu, tentangnya...

Entah apakah yang akan terjadi,
jika aku menangkapnya dan menyimpannya di dalam alam bawah sadarku...

Monday, April 24, 2017

Apa yang kamu tinggal

Hai, iya kamu yang di sana.
Apa kabarmu?
Apakah kamu baik-baik saja di sana?
Di sini ku teramat baik, setelah kau meninggalkanku.

Bagaimana kehidupanmu saat ini?
Masihkah kamu meninggalkan luka ke hati orang lain yang mencintaimu?
Masihkah kamu berpura-pura menyayangi orang yang menyayangimu sepenuh hati?

Aku sangat bahagia.
Aku berbahagia atas apa yang kau lakukan.
Hati yang telah kau lukai ini sudah sembuh dengan berjalannya waktu.

Aku telah menjadi orang yang lebih baik.
Aku berteman dengan lebih banyak orang.
Berbagai macam kegiatan kutekuni, untuk menemukan jati diriku.
Aku merasa sangat bahagia.

Aku harap kamu mengerti,
bahwa apa yang kamu tinggal

adalah sebongkah berlian yang belum diasah.

Monday, March 13, 2017

Bohong, kamu tak bahagia.

   Kamu mungkin ingin membohongi dirimu. Kamu sakit hati dan pikiran. Jiwamu terusik, pikiranmu kadang berhenti karena terlalu memikirkan yang tidak-tidak, entah akan bahagia atau tidak, atau tentang keselamatan jiwamu sendiri yang kau tak tau akan bagaimana nantinya.

  Kamu sendiri tau akan hatimu. Hatimu terluka. Hatimu terasa hampa. Perih namun tak terlihat. Kamu hanya merasakannya, namun kau tak ingin merasakannya. Kamu tersiksa, hidup dalam kepahitan, seperti sudah mati, namun badan ditinggal di bumi untuk disiksa, namun daging dan darahmu masih menyisakan rasa sakit yang hanya jiwamu yang mengerti.

  Kamu teringat akan dia, manusia yang menyakitimu. Ia datang dan menyiksamu, memberimu makanan jiwa, oksigen mungkin, dan arti hidup, lalu meninggalkanmu. Kamu kebingungan, mencari dia yang meninggalkanmu. Kamu tak tentu arah, pergi ke timur, barat, terjatuh, terguling, terhanyut dalam buaiannya yang membuatmu lupa. Lupa akan suatu hal yang sebenarnya sudah terlihat di depan matamu. Kamu sakit, jiwamu mati, meskipun ia meninggalkan kenangan di hatimu.

   Kamu lupa, kamu tak bahagia. Kamu bohong, kamu tak bahagia.

Sunday, March 12, 2017

Gelap dan Terang

Pernahkah kau melihat
Senyum di matanya, lekukan bibirnya, air mukanya bersenang?

Pernahkah kau melihat
Jemari tangannya, sendi, dan otot-ototnya menari?

Pernahkah kau melihat
isi hatinya?

Hati, pikiran.
Pikiran, hati.

Sedih, senang.
Senang, sedih.

Yang kau lihat, bukanlah yang kau lihat.

Lihatlah lebih dalam, dalam.

Sudahkah kau lihat?
Kegelapan mengerumuninya. Mengerumuni hatinya.
Hatimu, hatinya.

Jiwanya mati. Mukanya gembira.
Ironis. Namun ia bahagia sementara.
Sambil menunggu datangnya penyelamat.