Monday, March 13, 2017

Bohong, kamu tak bahagia.

   Kamu mungkin ingin membohongi dirimu. Kamu sakit hati dan pikiran. Jiwamu terusik, pikiranmu kadang berhenti karena terlalu memikirkan yang tidak-tidak, entah akan bahagia atau tidak, atau tentang keselamatan jiwamu sendiri yang kau tak tau akan bagaimana nantinya.

  Kamu sendiri tau akan hatimu. Hatimu terluka. Hatimu terasa hampa. Perih namun tak terlihat. Kamu hanya merasakannya, namun kau tak ingin merasakannya. Kamu tersiksa, hidup dalam kepahitan, seperti sudah mati, namun badan ditinggal di bumi untuk disiksa, namun daging dan darahmu masih menyisakan rasa sakit yang hanya jiwamu yang mengerti.

  Kamu teringat akan dia, manusia yang menyakitimu. Ia datang dan menyiksamu, memberimu makanan jiwa, oksigen mungkin, dan arti hidup, lalu meninggalkanmu. Kamu kebingungan, mencari dia yang meninggalkanmu. Kamu tak tentu arah, pergi ke timur, barat, terjatuh, terguling, terhanyut dalam buaiannya yang membuatmu lupa. Lupa akan suatu hal yang sebenarnya sudah terlihat di depan matamu. Kamu sakit, jiwamu mati, meskipun ia meninggalkan kenangan di hatimu.

   Kamu lupa, kamu tak bahagia. Kamu bohong, kamu tak bahagia.

Sunday, March 12, 2017

Gelap dan Terang

Pernahkah kau melihat
Senyum di matanya, lekukan bibirnya, air mukanya bersenang?

Pernahkah kau melihat
Jemari tangannya, sendi, dan otot-ototnya menari?

Pernahkah kau melihat
isi hatinya?

Hati, pikiran.
Pikiran, hati.

Sedih, senang.
Senang, sedih.

Yang kau lihat, bukanlah yang kau lihat.

Lihatlah lebih dalam, dalam.

Sudahkah kau lihat?
Kegelapan mengerumuninya. Mengerumuni hatinya.
Hatimu, hatinya.

Jiwanya mati. Mukanya gembira.
Ironis. Namun ia bahagia sementara.
Sambil menunggu datangnya penyelamat.